moon

The Moon

17 Apr 2013

Campur Aduk

Sedang berbunga-bunga setelah membaca update blog terbaru sang penulis favorit. Hehe. Cara nulisnya itu loh, merendah banget tapi konyol tapi berkesan di hati. Halah, opo sih. Hehe. Good for you. Semoga lekas menemukan jodohmu dan menyempurnakan dien mu. Aamiin.

Sudah cukup membahas sang penulis favorit. Saat saya pulang tadi, naik metromini ada seorang pemuda lagi teriak-teriak minta belas kasihan para penumpang. Sebenernya sih bukan sekali ini saya menemukan yang begini tapi yang berkesan di hati baru ini. Mungkin karena situasi metromini yang agak lengang jadi saya bisa lebih memperhatikan. Dia berteriak-teriak tentang anak-anak jalanan yang dipandang sebelah mata. Dia berteriak tentang uang seribu dua ribu yang ga akan membuat para penumpang jatuh miskin. Dia berteriak tentang lebih baik panjang suara dari pada panjang tangan. Saat dia sibuk berteriak-teriak yang intinya minta uang itu, seorang bapak yang bisa dibilang sudah tua masuk menawarkan dagangannya berupa aneka tahu, kacang dan mangga. Seorang bapak tua yang bekerja dan seorang pemuda yang mengemis.

Saya ga mau ngejudge sembarangan yah. Saya ga tau apa yang terjadi sama si pemuda itu juga pemuda-pemuda yang lain sehingga mereka memilih jalan seperti itu. Jadi yah, gimana yah. Ya gitu dah.

Soal judge mengejudge, saya ingat bos saya. Hehe. Waktu itu beliau lagi cerita sama sekretarisnya yang kebetulan duduk di sebelah saya. Saya hanya jadi pendengar saja. Beliau cerita tentang wanita-wanita di Arab Saudi. Ga pa-pa yah kalau saya sebut negaranya. Semoga kedepannya ga akan kenapa2. hehe. Well, ga tau ya bos saya ini dapet cerita dari mana tentang wanita-wanita muslim ini. Jadi beliau bilang kalau wanita-wanita ini munafik. Kenapa? Karena kalau di depan laki-laki mereka nutup rapat tubuh mereka dengan jubah. Tapi kalau lagi kumpul sama teman-teman wanita, mereka berpakaian seksi dan berdandan menor dll. Nah kan, beliau belum tahu kenapa bisa begitu makanya beliau bisa ngejudge seperti itu. Sama halnya saya yang ga tau kenapa anak-anak jalanan itu memilih mengemis di atas bus kota daripada menggunakan kekuatannya untuk sesuatu yang positif bagi dirinya dan orang lain. Tanya kenapa.

16 Apr 2013

Mendengarkan dan Didengarkan


Cobalah duduk sejenak diantara orang-orang yang ramai bercerita. Perhatikan masing-masing orang tersebut. Saya ada beberapa kali mengalami situasi seperti ini. Saya contohkan ya.

Orang 1 : Kemarin saya bla bla bla bla bla..
Orang 2 : Oh, kalau saya kemarin bla bla bla bla..
Orang 3 : Hmmm, kalau saya kemarin bla bla bla..
Orang 1 : Waahh, kalau saya enggak begitu. Saya mah bla bla bla bla..
Orang 2: Oh, kalau saya juga enggak begitu. Saya mah bla bla bla..
Orang 3 : Hmm.. Iya sih. Tapi kalau saya bla bla blaa...
Ngerti ga? Enggak ya? Saya juga bingung. hehee..
Intinya mah sama sekali ga ada pendengar di percakapan itu. Semuanya pengen didengerin. Dulu kalau saya yang mengalami kejadian itu, saya langsung diam. Tapi sekarang sangking seringnya saya mengalami kejadian itu, saya jadi seorang pendengar yang ga baik juga alias pengen cuma didengerin juga. Semoga Allah melindungi saya. Aamiin.